Jumat, 28 Agustus 2009

Kue Nastar : Tinggal Kenangan

bbrp hari lalu aku pesen nastar ke panitia WP Maba ( welcome party mahasiswa baru). mereka lg cr dana buat acara mereka. kebetulan pula aku niat mau ngasih nastar-nya ke pasien2ku.
mengingat selama ini pasien2ku udah banyak berjasa *terharu mode ON!!

itung2 sambil bantu panitia WP. aku pesen 5 toples kue nastar. lgsg pesen soalnya pas nyobain testernya ternyata haujek (enak) banget!!! harganya pun pas di kantong...

tapi... br sehari tuw nastar ngendon di rumah,, ternyata bikin aku mupeng... hahaha.... lgsg aku bajak alias aku embat 1 toples... sebelomnya juga udah diembat lovi 1 toples. diganti duit siy ama dia... wah!! jdnya misi mulia *cieee.... tak tersampaikan...!!
musti cr barang lain sbg ungkapan syukur n trima kasih buat pasien2ku yg imut n lutu2...

PS: buat lely bersaudara... kalian lucu-lucu bgt siy.... miss u all ^_^

Selasa, 25 Agustus 2009

Misteri Orto terkuak sudah

Setelah melewati sekian minggu yg cukup bikin dag-dig-dug gara2 aku ga tau hasil ujian profesi orto serta nilai klinik yg mepet n progress pasien yg juga ga jelas, akhirnya aku tau jg nilai akhirku kmrn...

sbenernya siy bisa maksa sejak 3 minggu lalu ke sekretaris bagian orto yg baik hati...
maksudnya biar tahu pastinya hasil ortoku. lulus ato gak...
tp tetep aja ogah2an nanya.. hoho....
kayaknya seneng bgt dgn sensasi deg-deg-an!! xixixixi...

gara2 ga jelas hasilnya pula, tmn2 yg minta bwt nglanjutin ngrawat pasien ortoku jg aku cuekin.
pasien ortoku jg blm aku kasih penjelasan ke depannya musti gmna...

fiyuuhh...
Thx God akirnya aku lulus profesi orto....
ini jg tahunya last minute pas ngambil KHS (kartu hasil studi) di dosen waliku....

hoh... syukurlah....

skrg tinggal nginget2 siapa yg duluan nagih pasienku tempo hr.... biar ga da jotok2an di kemudian hr....
trs ke rumah pasien2ku bwt pamit...

selamat tinggal klinik orto... ^_^

Rabu, 19 Agustus 2009

kesel!! kesel!! kesel!!

Rasa keselku ini benernya berlangsung minggu lalu. Pas hari rabu. critanya niy esok kamisnya meli dkk mau ke rumah lia di ponorogo trs sekalian ke solo ke acara nikahannya Rani... yg ada di pikiranku mreka pasti asyik jalan2 tuw.... masalahnya, aku ga dibolehin pergi ma ortu. gara2nya udah 1 bulanan ini aku libur kerjanya ngelayap melulu... disuruh duduk manis di rumah aja... apalagi daerah solo n skitarnya lagi booming pencarian teroris!!! nah lo??!!! kesel khan???!!!!



Kesel di atas blm seberapa....

kesel benerannya br pas malam hari, lagi leyeh2 buka fesbuk di atas kasur...

lah... kok???

baru ngeh dr status n comment tmn2 di FB...

ternyata.... ada 1 temenku, yg dulu bisa dibilang lumayan deket ternyata br aja melangsungkan pernikahan!!!!



yg bikin shock bukan krn aku patah hati tmnku dah ga lagi single.

tp dia nikah ga bilang2 mengingat kami cukup dekat dan akrab
(ga tahu lagi deh kl dia ga nganggep aku tmnnya), trs masih hangat dipikiranku br 2 minggu lalu km chat di YM n dia ga crita2 perihal kabar bahagia ini!!! uh!!! aku kesel setengah mampus!!! emang siy nikahnya di luar pulau sehingga aku mungkin ga bakal datang (ongkos pesawat bo!!), atau emang dia ga niat ngundang2.... tp khan setidaknya dia bs cm sekedar kasih info... biar aku bs mendoakan jg...



ampun!!! temenku satu ini emang keterlaluan bgt!!! aku kesel n sedih....



apa kabar ya dia skrg?? mungkin masih honeymoon n menikmati masa2 bersama... (mereka LDR sebelumnya)



selamat berbahagia buat temanku, Buzz n Etha....

Kamis, 06 Agustus 2009

TMJ - Temporo Mandibular Joint

Sendi temporomandibular (TMJ) merupakan sendi sinovial yang menghubungkan mandibula dengan tulang temporal pada posisi yang tepat. Pada posisi normal, kondilus mandibula berada tepat pada fossa glenoidea tulang temporal. Tulang cartilago (articilar disc) merupakan bantalan yang berda di antara kondilus dan fossa glenoidea yang memungkinkan mandibula bergerak tanpa menimbulkan rasa sakit. TMJ didukung oleh beberapa struktur, antara lain struktur tulang, ligamen, muskulus, dan saraf.

Struktur Ligamen
 Diskus artikularis
 Membran sinovial
 Kapsul
 Lig.temporomandibula (lateral)
 Lig.sphenomandibula (internal lateral)
 Lig.stylomandibula

Struktur Tulang
 Fosa glenoidalis (tl. temporal)
 Kondilus mandibula

Struktur Muskulus (berdasarkan pergerakan)
1. Menutup mulut.
 m.maseter (O: arkus Zigomatikus ; I: angulus mandibula lateral ; N: n.maseter dari n.mandibula /n.v)
 m.temporalis ( O : fosa temporalis ; I: prossesus koronoid mandibula ; N: n.mandibula)
 m.pterigoideus medialis (O: medial pterigoid prossesus piramidal palatina ; I:medial angulus mandibula ; N: n.pterigoid medialis dari n.mandibula)

2. Membuka mulut
 m.pterigoideus lateralis ( O: lateral spenoidalis, lateral pterigoid : I: kondilus mandibula, anterior diskus ; N: pterigoid dari n.mandibula)
 kelompok m.suprahioid ( m.digastrikus, m.milohyoid, m.geniohyoid, m.stilohyoid)

3. Protrusi
 m.maseter
 m.pterigoideus medialis dan lateralis

4. Retrusi
 m.temporalis
 m.digastrikus
 m.maseter

5. Lateral
 m.temporalis sisi yang sama
 m.pterigoideus kontralateral  m.maseter

Pergerakan Normal Sendi
1. Gerakan rotasi terjadi pada kondilus dengan permukaan bawah discus à disebut struktur kondilus disckomplek (sendi bawah).

2. Gerakan menggelincir terjadi pada sendi bagian atas antara kondilus disckomplek dengan fosa glenoidalis.

Klasifikasi Kelainan pada TMJ
1. Myofacial pain
Symptom : nyeri difuse, bilateral, tirgger points/ referred points
Treatment : moist heath, muscle relaxant, terapi fisik, trigger point injection

2. Internal derangements
Symptom : unilateral, nyeri terlokalisir, clicking, krepitasi, pergerakan mandibula terbatas, nyeri kepala, leher hingga punggung

Dibagi menjadi :
 Disc displacement Permukaan posterior dari disc menipis dan inferior retrodiscal lamina dan lateral distal dan lateral ligamen memanjang, maka disc akan bergeser melalui permukaan artikularis dari kondilus

 Disc dislocation without reduction Elastisitas superior retrodiscal lamina hilang, menyebabkan sulitnya disc kembali ke arah tempat yang normal dalam pergerakan membuka mulut. Ditandai dengan pembukaan mulut menjadi terbatas dan tidak terdengar lagi bunyi klik selama pergerakan buka mulut

 Disc dislocation with reduction
a. Pemukaan posterior disc makin mengecil dan superior retrodiscal lamina dan kolateral ligamen makin memanjang
b. Disc akan bergerak ke anterior melewati diskal space
c. Ketika membuka mulut kondilus bergerak ke bawah di sebelah posterior artikular eminence arah posteror border dari disc.
d. Gerakan ini menimbulkan loncatan atau untuk menangkap disc dalam pergerakan membuka mulut.
e. Selama pergerakan rahang disc kembali pada posisi normal.
f. Selama adanya disc location, kondilus terletak pada retrodiskal tissue yang merupakan daerah banyak vascularisasi dan nervus, sehingga akan menyebabkan rasa sakit.

Penyebab Kelainan pada TMJ
1. Trauma, dapat secara langsung maupun tidak langsung. Dapat bermula dari beban yang berlebihan dan berulang

2. Patofisiologi
 Faktor sistemik (degeneratif, endokrin, infeksi)
 Faktor lokal (berhubungan dengan mastikasi)

3. Psikososial (dipengaruhi situasi dan emosi)

4. Anatomi
 Skeletal (faktor genetik, pertumbuhan)
 Oklusi (hilangnya gigi posterior, intercuspal position)

Pemeriksaan pada Kelainan TMJ
1. Pemeriksaan klinis
 Kebiasaan mengunyah 1 sisi
 Bruksism
 Suara clicking atau krepitasi
 Pergerakan mandibula ( pada keadaan normal mandibula bergerak lurus dan simetri, gerak membuka mulut sekitar 45 mm, lateral dan protrusi 10 mm)
 Rasa nyeri saat menggerakkan mandibula

2. Pemeriksaan radiology
 Panoramic
 Transcranial
 TMJ arthrography

3. Pemeriksaan psikologi (Depresi)

Perawatan pada Kelainan TMJ
1. Edukasi
2. Obat-obatan
3. terapi fisik
4. oklusal adjusment
5. splint
6. arthrocentesis
7. arthroscopy
8. arthrotomy

Kista, Abses periapikal, Ameloblastoma

KISTA
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, bahan setengah cair atau gas dan seringkali dibatasi oleh lapisan epitel dan dibagian luarnya dilapisi oleh jaringan ikat dan pembuluh darah.

Kista dibagi dalam beberapa klasifikasi menurut WHO:
1. Kista pada rahang.
· Epitelial
a. Developmental (odontogenik dan non odontogenik).
b. Inflamatori.
· Non-epitelial
2. Kista yang berhubungan dengan maksila.
3. Kista pada jaringan lunak rongga mulut, wajah dan leher.

Pola umum pertumbuhan suatu kista terjadi karena adanya stimulasi (cytokinase) pada sisa-sisa sel epitel pertumbuhan yang kemudian mengalami proliferasi dan di dalam pertumbuhannya tidak menginvasi jaringan sekitarnya. Sisa epitel tersebut kemudian akan berproliferasi membentuk massa padat. Kemudian massa akan semakin membesar sehingga sel-sel epitel di bagian tengah massa akan kehilangan aliran darah, sehingga aliran nutrisi yang terjadi melalui proses difusi akan terputus. Kematian sel-sel dibagian tengah massa kista tersebut akan menyebabkan terbentuk suatu rongga berisi cairan yang bersifat hipertonis. Keadaan hipertonis akan menyebabkan terjadinya proses transudasi cairan dari ekstra lumen menuju ke dalam lumen. Akibatnya terjadi tekanan hidrostatik yang berakibat semakin membesarnya
massa kista. Proses pembesaran massa kista dapat terus berlangsuung, kadang sampai dapat terjadi parastesia ringan akibat ekspansi massa menekan daerah saraf sampai timbulnya rasa sakit.

GAMBARAN RADIOLOGI
Dalam pemeriksaan rontgen akan terlihat gambaran radiolusen berbatas jelas.

TERAPI
Marsupialisasi dan enukleasi.

KISTA RESIDUAL
Kista residual merupakan kista yang disebabkan oleh keradangan pada fragmen akar yang tertinggal saat pencabutan atau adanya sisa granuloma yang tidak terambil saat pencabutan. Pada pemeriksaan klinis didapatkan rahang tidak bergigi dengan sejarah pernah dilakukan ekstraksi dan pada gambaran radiologi ditemukan gambaran radiolusen. Secara histopatologis ditandai dengan adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel yang tidak mengalami keratinisasi squamosa dan mempunyai ketebalan yang bervariasi. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel neutrofil pada dinding kista. Perawatan kista residual adalah dengan melakukan enukleasi dan pada umumnya tidak terjadi rekuren.


ABSES PERIAPIKAL
Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau periodontal. Abses periapikal umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah memfagosit bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini maka jaringan sekitarnya akan terdorong dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar tergantung kepada lokasi abses.

GAMBARAN RADIOLOGIS
Pada pemerikasaan rontgen akan tampak gambaran radiolusen berbatas difus di periapikal.

TERAPI
Terapi yang dilakukan adalah insisi, drainase dan pemberian antibiotik.


AMELOBLASTOMA
Ameloblastoma merupakan tumor benign yang berasal dari sel epitel odontogen (ameloblas). Perjalanan tumornya lambat, dapat menyebabkan deformitas pada tulang wajah atau rahang. Seringkali terjadi pada mandibula daripada maksila. Ameloblastoma cenderung mendesak tulang kortikal, namun karena pertumbuhannya lambat maka memberi cukup waktu pada periosteum untuk membentuk selapis tipis tulang di sekitar lesi dan bila dilakukan palpasi pada daerah tersebut seringkali timbul krepitasi. Terdapat tiga tipe ameloblastoma: unikistik, multikistik dan peripheral.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pada pemeriksaan rontgen tampak radiolusen dalam tulang dengan ukuran bervariasi kadang single atau multilokuler (soap bubble appearance), bisa terdapat resorpsi akar pada gigi yang bersangkutan.

TERAPI
Pada unikistik dan peripheral ameloblastoma dengan ukuran yang cukup kecil, dapat dilakukan enukleasi. Sedangkan pada multikistik ameloblastoma diperlukan eksisi hingga jaringan normal di sekitar lesi.

Dental granuloma

NAMA LAIN
Periapical granuloma; periodontitis apikalis kronis

PENGERTIAN
Massa jaringan granulasi yang berkaitan dengan apeks gigi non vital dan terbentuk sebagai akibat infeksi saluran akar.

GAMBARAN KLINIS dan HISTOPATOLOGI
Secara klinis dental granuloma tidak dapat dibedakan dengan lesi keradangan periapikal lainnya. Untuk membedakan dengan lesi periapikal lainnya diperlukan pemeriksaan radiografi. Ukurannya bervariasi, mulai dari diameter kecil yang hanya beberapa millimeter hingga 2 centimeter.
Dental granuloma terdiri dari jaringan granulasi yang dikelilingi oleh dinding berupa jaringan ikat fibrous. Pada dental granuloma yang sudah cukup lama, cenderung memberikan gambaran adanya sel plasma, limfosit, neutrofil, histiosit, dan eusinofil, serta sel epithelial rests of Malassez. Pada gigi dengan karies perforasi pada pemeriksaan mikrobiologi akan didapatkan mikroaerofilik bacterium actynomices.

GAMBARAN RADIOLOGI
Tampak gambaran radiolucent dengan batas tepi yang kadang terlihat jelas pada periapikal. Umumnya berbentuk bulat. Gigi yang bersangkutan akan menunjukkan hilangnya gambaran lamina dura. Biasanya tidak disertai adanya resorbsi akar, namun ada juga yang menunjukkan gambaran resorbsi akar.

ETIOLOGI
Disebabkan oleh kelainan patologis dari reaksi keradangan pulpa yang berlanjut hingga ke jaringan sekitar apeks. Pulpitis itu sendiri dapat disebabkan oleh infeksi karies sekunder, trauma, atau kegagalan perawatan saluran akar.
Nekrosis pulpa akan menstimulasi reaksi radang pada jaringan periodontal gigi yang bersangkutan.

SYMTOM
Dental granuloma umumnya tidak menimbulkan gejala-gejala yang pasti. Gigi yang bersangkutan akan memberikan respon negative pada perkusi, tes termal, dan tes elektrik pulpa.
Pada dental granuloma yang terus berlanjt dan dibiarkan tanpa perawatan dapat berubah menjadi kita periapikal.

TREATMENT
Lesi inflamasi apical umumnya disebabkan oleh adanya produk toksik yang dihasilkan oleh bakteri yang ada di saluran akar, sehingga keberhasilan perawatan tergantung pada eliminasi bakteri pada gigi yang bersangkutan.
Pada gigi yang masih dapat dipertahankan dapat dilakukan perwatan saluran akar. Sedangkan pada gigi yang tidak dapat dilakukan restorasi maka harus dilakukan ekstraksi.
Pada gigi yang dirawat saluran akar perlu dilakukan evaluasi pada tahun pertama dan kedua untuk memastikan apakah lesi bertambah besar atau telah sembuh.

Kegagalan proses penyembuhan bisanya disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
- berubah menjadi bentukan kista
- kegagalan perawatan saluran akar
- fraktur akar vertical
- adanya penyakit periodontal

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Kista radikular ; abses periapikal